SELAMAT DATANG DI KORANRAKYAT.COM DAN KUNJUNGI SITUS KAMI BARU RUMAHCAR.COM

Belum Maksimal Puskesmas Di Lampung

 

 

 

 

 

 

 

 

Metro Lampung,Koranrakyatonline

Dengan dibantu tiga dokter, 3 Bidan dan 3 Mantri Puskesmas Bersalin Sumbersari Bantul (Metro) akan dapat melayani pasien dengan baik, demikian kata kepala Puskesmas Dr. Ade Kurniawan,  M.Kes ketika berdialog secara eksklusif dengan koranrakyatonline.com diruang kerjanya dalam rangka merefleksi hari peringatatan HKN (hari kesehatan nasional) yang ke-47.

Dokter yang masih memiliki karakter aktifis kesehatan dan sosial lulusan Bandung serta S2 di Univ.Sugiyo Pranoto Semarang ini lebih lanjut memaparkan. Bahwa HKN ini bukanlah seremonial dan tidak jelas acaranya, tapi harus lebih dimaknai lebih mendalam dan filosofi sebagai genderang mengabdi pada masyarakat dan bukan justru menjauh. Lebih lanjut ia mengatakan, menjadi Dokter atau perawat atau penunggu puskesmas misalnya, itu adalah bentuk  pengabdian. Apalagi menjadi seorang dokter atau bidan, itu adalah sebuah keberuntungan karena diberikan tugas dan tanggung jawab bisa menolong orang lain. Maka baginya, setiap orang yang berobat berarti membutuhkan pertolongan dan harus sesegera mungkin dibantu dan diberikan pengobatan. Dr.Ade sangat menyesalkan karena sekarang ini masih saja ada beberapa dokter dan  rumah sakit yang hanya mengedepankan material dan mengesampingkan kemanusiaan serta mengabaikan sisi humanisme, bahkan masih ada saja dokter-dokter yang mala praktek dan itu masih sulit diungkap. Dan sedihnya lagi, hal itu juga dilakukan oleh dokter-dokter senior yang seharusnya memberi pembinaan  pada dokter-dokter junior.

 

Dalam hal kedisiplinan petugas Puskes. Ia mengetrapkan pola kedisplinan ala TNI. Jam 8.00 ia mengontrol anak buahnya dan tidak segan-segan akan memberikan sanksi bagi mereka yang datang terlambat. Petugas juga ia kontrol lagi dan baru boleh pulang jam 2 siang. Baginya kedisiplinan adalah karakter sebuah bangsa yang tinggi dan maju, dan itu adalah bentuk kewajiban dan tanggung jawab seorang dokter, mantri, bidan dan semua pengabdi masyarakat. Hal tersebut juga sesuai dengan undang-undang perda dan teken kerja dan perhitungan yang sudah disesuaikan dengan gaji juga. Jadi apabila bekerja seenaknya sendiri dan tidak menghiraukan kedisiplinan ini termasuk pelanggaran dan merugikan masyarakat karena yang namanya bertugas sudah disepakati jam kerjanya berikut gajinya. Bahkan dari sisi pelayanan Dr. Ade mengakui kerja puskesmas belum maksimal dan masih banyak kekurangan, ruangan dan loket khusus orang lansia atau penderita stroke misalnya, disini belum ada penspesifikasian bagi mereka, obat khusus atau ruangan periksa khusus juga belum ada. Karena memang semua masih terkendala keterbatasan tempat dan minimnya ruangan. Namun demikian, untuk memaksimalkan pelayanan ia memanfaatkan ambulance untuk jemput bola pasien yang memang tidak bisa berjalan. Dan selalu mensosialisasikan pentingnya kesehatan kepada masyarakat dengan menggandeng pihak-pihak terkait seperti lurah, PKK, posyandu, puskesdes bahkan tokoh masyarakat juga ikut dilibatkan.

Meskipun terlihat tua dan nampak perlu direhab, Puskemas yang menyediakan rawat inap, rapi, displin dan  selalu siaga ini memang cukup rapi dan administratip, maka wajar apabila  tahun 2010 lalu mendapat penghargaan dari Kementrian Kesehatan sebagai 10 Puskesmas terbaik se-Indonesia dan walikota Metro, DRS.H.Lukman Hakim, Sh,MM dikukuhkan dengan pangkat Bintang Kesatria Bhakti Husada, dan Puskes Sumbersari tersebut dijadikan sebagai tempat research WHO dalam hal kesuksesanya dalam penanganan Campak dan Polio dengan merespon dari 20 responden masyarakat bantul. Bagi dr.Ade, sebuah penghargaan itu memang membanggakan, tapi apalah artinya bila itu tidak sesuai dengan apa yang diabdikan petugas kepada masyarakat, baginya bekerja dan mengabdi itu lebih penting dari sebuah atau banyak penghargaan yang ceremonial semata. Memperbaiki yang ada dan menerima kritikan adalah lebih baik karena akan menjadikan Puskes ini sebagai pusat kridibilitas humanis dan benar-benar diwujudkan dalam bentuk melayani, menolong, dan menjadi milik masyarakat yang sehat.

Disinggung mengenai dana Box yang bergulir berjumlah 100.000.000, secara terbuka ia mengatakan bahwa yang mereka terima hanya sekita 60.000.000 saja, sebab jatah yang seyogyanya untuk 10 Puskesmas dibagi menjadi 11 Puskesmas karena ada  penambahan satu Puskesmas itu di Yosomulyo. Dan mengenai pengucuranya dari pusat turun secara berangsur sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan disesuaikan dengan KPPN dan di SPJ-kan, diverifikasi dan barulah dicairkan secara berkala. Dan untuk penyaluran dan alokasi dana tersebut sudah banyak yang dialokasikan dan masih ada sedikit saja yang tersisa, dan dokter Ade menegaskan bahwa dana itu nantinya akan benar-benar diaplikatifkan penggunaanya hingga 100%. Diantara fungsi dana itu adalah untuk mengkafer segala aktifitas Indonesia Aman Demam Berdarah, bebas campak dan polio sampai tahun 2015, Dan juga untuk pelaksanaan Indonesia Cinta Sehat Dan program Ibu melahirkan selamat 100%.

 

Disinggung mengenai Wabah Hepatitis, dr Ade menjelaskan bahwa belum ada yang dirujuk ke rumah sakit. Sejauh ini 10 pasian mereka yang berobat Hepatitis A keadaanya sudah membaik dan sudah sehat seperti biasa. Dan tentang penularanya bisa lewat makanan yang virus, tetapi ini juga bergantung dari kekebalan tubuh seseorang.

Tentang biaya berobat di Puskes ia menyatakan semua gratis, termasuk melahirkan juga gratis. Kalau ada yang membayar pendaftaran 4000 itu karena berasal dari daerah lain. Semua perda memang sudah dijalankan disini dan itulah dasar acuan kerja dan dasar hukumnya.

Dr.Ade berharap melalui koran dan media lainya, adalah pesan dogmatis untuk pemerintah dan semua lapisan masyarakat terlebih bagi para pelaku kesehatan yang memang memiliki tanggung jawab, bahwa tercapainya Indonesia sehat adalah jika semua bersatu bekerjasama untuk mewujudkanya, dan tidak semata-mata pemerintah atau dinas kesehatan hanya sekedar mengawasi saja tetapi lebih dari itu harus turun kelapangan jemput bola dan melihat karakter, keadaan dan problem solving yang sebenarnya. Demikian tutur dr. Ade yang pada awal desember nanti akan menjadi penggerak massal aksi longmarch sosialisasi bahaya HIV diacara peringata hari HIV se-dunia 2011 (sol)

Baca Juga

Shortlink: